Big book g-mook
Persahabatan, bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, siapa yang datang pertama atau yang paling perhatian. Tapi persahabatan adalah tentang siapa yang datang dan tidak pernah pergi.
..................................................................................................................................................................
Sekitar 5 tahun silam, bukan sengaja membentuk gank dengan nama “ G-MOOK”, tapi semua terjalin dengan apa adanya dan berkumpul menjadi satu. Semula, semua memandang anak-anak G-MOOK dengan pandangan sinis. G-MOOK hanya salah satu dari mereka, yang menamakan persahabatannya dengan nama unik bahkan aneh di telinga. Mungkin saja karena badan mereka yang tambun alias gemuk dan padat berisi. Karena itu urutan anak G-MOOK dari Big Bos bernama Ramon, Omy, Giok, Ode, Yoga, Simpung, Rojib, dan Badai. Apapun namanya yang pasti persahabatan mereka terus terjalin hingga tua.
10 tahun sudah G-MOOK menjalin persahabatan, kini mereka telah menuai kesuksesan. Sebulan yang lalu Prima kembali dari Jakarta, setelah dia menyelesaikan kuliahnya disana. Kini Prima kembali ke Surabaya dan lulus dengan gelar Sarjana Sastra Indonesia. Prima ialah sahabat cewek G-MOOK sejak SMA di Surabaya. Prima begitu merindukan Surabaya dan sahabat G-MOOK. Dia kembali menghubungi mereka dan mengatakan jika Prima sudah kembali ke Surabaya.
Mereka membuat janji untuk bertemu di salah satu mall tempat mereka dulu sering nongkrong. Pertemuan itu benar-benar mengharukan.
“ Prima dimana ya ? “ tanya Ramon pada G-MOOK lainnya.
“ E..Eh..itu Prima g sih? Jawab Yoga.
“ Ayo kita samperin dia, sepertinya sih iya.”
Mereka mendekati gadis berambut panjang yang sedang duduk sendiri dan asik mengutik laptop di salah satu meja dekat jendela.
“ Emm…Prima?”
“ Ramon……Badai……Yoga…..Giok…?” Prima terkejut bertemu dengan mereka semua, dan saling berpelukan untuk melepaskan rindu.
“ Gila ni anak berubah banget, aku kira ni cewek siapa…eh ternyata kamu Prim.” Ramon masih tidak menyangka bisa melihat Prima lagi.
“ Gila…kamu benar-benar berubah semenjak tinggal di Jakarta, makan apa aja lu?” Yoga menambah komentarnya dengan ceplos.
“ Prima tambah cantik ya, apalagi rambutnya panjang. Padahal kan dulu kamu tidak pernah berambut panjang, selalu aja pendek. Eh sekarang makin cakep aja.” Giliran Giok yang memuji Prima.
“ Ya ampun kalian semua kenapa sih, biasa aja kali. Yang ada tuh aku yang makin pangling dengan kalian, ternyata kita uda dewasa ya. Wajah-wajah kalian, badan kalian agak tirusan. Apalagi Ramon, dulu kan gemuk..eh sekarang bisa kurus juga toh.”
Mereka tertawa bersama dan saling bercerita satu sama lain. Tapi sayang, yang datang hanya Ramon, Giok, Yoga, dan Badai.
“ Loh yang lainnya mana, kok tidak ikut?”
“Sekarang Omy sudah berkeluarga dan minggu depan dia akan menjadi seorang bapak, Ode sekarang pindah ke Bandung dan mencoba menjajaki profesi sebagai sutradara film, dan dia bilang sebentar lagi akan mengikuti sebuah Festival Film Bandung, lalu Simpung dan Rojib tidak tahu lagi kabar beritanya, mereka sudah pindah kemana tanpa kabar.”
“ Lalu Riska, gimana kabarnya?”
“ Riska sudah menikah dengan salah satu pengusaha, sekarang dia bekerja di salah satu Bank di Surabaya.”
“ Menikah, kenapa aku tidak diberitahu dan diundang?” Prima begitu kaget.
“ Kita semua sudah berusaha menghubungi kamu dan mengirim undangan pernikan itu ke kamu, tapi kami susah sekali menghubungi kamu.”
“ Hemmm…maaf ya, waktu itu hp ku sedang rusak.”
“ Kamu sendiri gimana, udah nikah apa belum…nggak pengen cepet-cepet nyusul si Riska?”
“ Emm, bulan depan aku mau tunangan. Kalian harus datang ya.”
“ Gila aja kalau nyamperin ke Jakarta.”
“ Tenang…pertunangan dan pernikahanku insya Allah di Surabaya.”
“ Yang bener…sama siapa?”
“ Ada deh…pokoknya datang aja, nanti juga tahu sendiri. Nanti aku kasi tahu lagi deh. Eh..aku juga mau bilang, sebentar lagi aku mau meluncurkan novel pertamaku loh, dan kalian wajib datang saat aku promo nanti ya, di salah satu toko buku, minggu depan.”
“ Oh ya, buku apaan?”
“ Wah kalau nggak ada ceritanya si Ramon ini aku ng’mau ah datang.”
“ Yah kalian kok gitu sih. Udah deh pkoknya kalian bakal tahu sendiri dan kalian wajib punya bukunya. Oke .”
Perbincangan mereka semakin seru dan malam pun kian larut. Setelah reunian kecil itu, dan setelah beberapa minggu kemudian. Prima sedang mempersiapkan promo novel pertamanya di salah satu toko buku di Surabaya. Acara yang berlangsung sore hari itu merupakan hari yang membuat Prima bahagia. Tanpa sepengetahuannya sebagian teman-teman SMA Prima di Surabaya yang mengenal Prima datang untuk bertemu dan membeli novel Prima. Dan hal yang membahagiakannya lagi, G-MOOK datang bersama-sama, baik Riska dengan suaminya, Omy dengan istrinya.
Novel pertamanya yang berjudul “ BIG BOOK G-MOOK “ tersebut merupakan cerita perjalanan yang ia rangkai menjadi sebuah cerita seru tentang hidup Prima bersama G-MOOK. Semakin mendekati waktunya, Prima begitu bahagia, karena dia tidak pernah menyangka begitu besar antusias teman-temannya terhadap karyanya yang kali pertama ia luncurkan. Di sudut ruang pun ia melihat sosok pria tampan yang akan menjadi pasangan hidupnya. Namanya Jagat, kekasih yang akan menjadi calon suaminya. Tak lama peluncuran itu dimulai, tanya jawab pun menyertai suasana, suasana di toko buku itu pun menjadi lebih hangat ketika salah seorang pengunujng menanyakan suatu pertanyaan pada Prima.
“ Wah, novelnya seru dan penuh warna kehidupan mbk. Prima dan juga sahabat-sahabatnya, tapi kenapa harus bersambung mbk, kira-kira akhirnya happy or sad ending nih?.”
“ Emm..kalau soal itu saya masih belum memikirkannya, tunggu saja. Itulah yang ingin saya sugukan pada pembaca untuk menebak-nebak dan penasaran.” Jawab Prima dengan senyuman manisnya.
Tiba-tiba lampu dalam ruangan tersebut padam, semua menjadi gaduh. Tapi sejenak kemudian lampu itu menyala dan tak disangka sosok Jagat datang dengan membacakan sebait sajak untuk Prima.
Senjamu tersenyum manja untuk ku
di hamparan luas dia terpa badai angin dengan gigil
dia mulai tancapkan jarum kegelisahan pada tubuhku
hingga ku basah olehnya
Prima seakan terhipnotis tak berdaya, tertegun melihat Jagat membacakan sebuah sajak yang ia buat sendiri untuknya.
“ Prima, disini aku berdiri tanpa tiang mungkin aku akan goyah ketika badai mulai menerpaku, tetapi aku tak ingin semua itu terjadi. Karena aku ingin tiang itu menjadi kamu. Prima, mungkin aku tak akan pernah bisa merangkai sajak indah seperti pujangga, aku hanya ingin merubah kata-kata Sapardi Djoko Damono bahwa aku ingin meminangmu dengan sederhana, dengan cinta sederhana, dengan semua yang sederhana. Aku ingin menemukan tulung rusukku yang hilang, dan aku yakin itu kamu Prima.” Jagat mengungkapkan perasaannya dihadapan semua orang. Dia ingin meminang Prima. Saat itu pula perasaan Prima menjadi satu, bahagia, haru, dan terkejut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar